PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR SEJARAH SISWA

MELALUI MODEL PEMBELAJARAN POP UP MATA PELAJARAN SEJARAH

KELAS X4 2021/2022 SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL MALANG

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH

RIZKI MULTIANTO NUGROHO

NIM 2205437805

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS RIAU

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayahnya kepada kita. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan tauladan dalam kehidupan, hingga kita dapat mengikutinya dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Atas nikmat yang telah Allah SWT berikan, maka penulis dapat menyelesaikan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Keaktifan Belajar Sejarah Siswa Melalui Model Pembelajaran Pop Up Mata Pelajaran Sejarah Kelas X4 2021/2022 SMA Brawijaya Smart School Malang”.

Dalam penyusunan PTK ini, penulis memiliki banyak sekali kelemahan dan keterbatasan. Keberhasilan penyusunan PTK ini tidak lepas dari peran dan dukungan dari berbagai pihak. Penyusunan PTK ini tidak terselesaikan dengan baik tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan doa dari semua pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak,

Penulis menyadari bahwa penyusunan PTK ini tak lepas dari kekurangan dan masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan PTK ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dan semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan demi pengembangan ilmu pengetahuan. Aamiin.

 

 

 

 

 

Malang, 3 Maret 2022

Penulis,

 

 

 

 

Rizki Multianto Nugroho, S.Pd

 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………….. i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………….. ii
BAB I      PENDAHULUAN ………………………………………………………………. 1
A. Latar Belakang ……………………………………………………………….. 1
B. Identifikasi Masalah …………………………………………………………. 6
C. Analisis Masalah ……………………………………………………………… 6
D. Rumusan Masalah ……………………………………………………………. 6
E. Tujuan Penelitian………………………………………………………………. 6
F. Manfaat Penelitian…………………………………………………………….. 7
BAB II    KAJIAN PUSTAKA ……………………………………………………………. 8
A. Penelitian Tindakan Kelas………………………………………………….. 8
B. Media Pembelajaran ………………………………………………………….. 8
C. Pop Up…………………………………………………………. 10
D. Efektivitas Belajar …………………………………………….. 11
E. Hasil Belajar……………………………………………………. 11
F. Hipotesis Tindakan……………………………………………………………. 11
BAB III METODELOGI PENELITIAN …………………………………………… 12
A. Subjek Penelitian …………………………………………………………….. 12
B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan ………………………………………… 12
C. Diskripsi Siklus ……………………………………………………………….. 12
D. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………………… 15
E. Instrumen Penelitian………………………………………………………….. 17
F. Teknik Analisis Data …………………………………………………………. 18
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………………………. 84
A. Hasil Penelitian ………………………………………………………………… 56
1. Diskripsi Pelaksanaan ……………………………………………………. 56
2. Siklus I ………………………………………………………………………… 63
3. Siklus II ……………………………………………………………………….. 65
4. Siklus III ………………………………………………………………………. 68
B. Pembahasan …………………………………………………………………….. 74
1. Komparasi Hasil Belajar ………………………………………………… 56
2. Hasil Belajar ………………………………………………………………… 63
3. Efektivitas Belajar ……………………………………………………………. 65
BAB V     PENUTUP …………………………………………………………………………. 97
A. Kesimpulan………………………………………………………………………. 97
B. Saran ………………………………………………………………………………. 99
DAFTAR RUJUKAN …………………………………………………………………………. 100
LAMPIRAN ………………………………………………………………………………………. 105

 

BAB I PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang

SMA Brawijaya Smart School Malang merupakan salah satu sekolah di Kota Maklang yang sistem pembelajarannya sudah menggunakan sistem SKS (Satuan Kredit Semester) sejak tahun ajaran 2008/2009. Melalui sistem SKS ini, para siswa diajarkan miniatur kecil dari jenjang perkuliahan sebagai bekal awal menuntut ilmu di perguruan tinggi. Sistem SKS ini berdampak pula pada strategi pembelajaran yang ada di SMA BSS Malang. SMA BSS Malang mengembangkan pendidikan dengan media pembelajaran modul untuk program-programnya sejak tahun ajaran 2008/2009 yang diharapkan dapat menuntun siswa belajar mandiri.

Sebelum melakukan observasi awal pada tanggal 28 Juli 2022 sampai tanggal 11 Agustus 2022, sebelumnya peneliti telah melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA BSS Malang untuk semester genap tahun ajaran 2021/2022, sehingga untuk memasuki lingkungan belajar di SMA BSS Malang, peneliti sangat dimudahkan oleh guru-guru SMA BSS Malang dan juga peneliti sudah lebih akrab dengan para siswa SMA BSS Malang. Dalam observasi awal di sekolah, peneliti menemukan tiga masalah dalam proses pembelajaran. Pertama, disadari oleh guru sejarah bahwa pembelajaran di kelas X4 masih konvensional (ceramah) hal ini di landasi oleh wawancara peneliti bahwasanya guru sejarah kurang bervariatif dalam pembelajaran.

Langkah-langkah yang sudah di ambil oleh guru sejarah tersebut antara lain pembelajaran dengan diskusi ataupun kelompok. Kedua, kelas X4 yang diamati oleh peneliti, adalah kelas yang mempunyai karakteristik siswa tidak gemar membaca. Dan yang ketiga nilai-nilai Sumatif Akhir Semester X4 semester genap 2021/2022 78% dibawah nilai KKM 75.

Dari ketiga masalah di atas merupakan lawan balik dari media pembelajaran yang diterapkan di SMA BSS Malang yaitu media pembelajaran modul. Media pembelajaran modul memiliki prinsip untuk memacu siswa lebih mandiri menggali pengetahuannya. Jika tiga masalah di atas tersebut belum dapat diatasi oleh guru dan siswa, maka hal ini dapat menghambat proses pembelajaran di kelas X4. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan upaya perbaikan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk mengatasi proses pembelajaran.

Peneliti melakukan usaha peningkatan nilai dengan mengubah peran guru terutama dari pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher centered) menjadi terpusat pada siswa (student centered). Salah satu strategi pembelajaran student centered yaitu media pembelajaran pop up. Penerapan media pembelajaran pop up merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan belajar siswa di kelas X4 karena strategi ini belum pernah diterapkan di SMA BSS Malang sebelumnya. Peneliti berupaya melakukan perbaikan terhadap media pembelajaran dengan memadukan media pembelajaran modul dan pop up sehingga keduanya dapat diterapkan secara baik dalam proses pembelajaran di kelas.

Keunggulan dari media pembelajaran ini adalah media ini berbentuk pop-up 3 Dimensi sehingga peserta didik dapat terlibat langsung dan turut serta dalam proses belajar mengajar. Disamping itu bentuknya yang unik dan tentu banyak warna ini akan menarik perhatian siswa, sehingga akan lebih semangat belajar. Pembelajaran dengan menggunakan media pop up juga dapat meningkatkan kreativitas siswa karena siswa bebas mengungkapkan pendapat yang mereka miliki dan menuliskan kembali cerita sejarah berdasarkan kalimat sendiri.

Menurut Mei Dina Rahmawati sebagai alat bantu pembelajaran, media bisa berperan untuk menunjang penggunaan metode pembelajaran yang akan diterapkan oleh guru agar penyampaian bahan belajar bisa lebih efektif dan efisien. “Media pembelajaran harus sesuai dengan analisis kebutuhan dan karakteristik pembelajaran, perkembangan belajar siswa SMA serta dengan mempertimbangkan alat pengukur keberhasilan belajar siswa.

Pop up berasal dari bahasa inggris yang berarti “muncul-keluar”. Secara harfiah pop up adalah menambahkan sebuah jumlah dimensi baru untuk buku, kartu ucapan atau box (Mufidah, 2015:22). Sementara itu, Dzuanda (2011: 1) menjelaskan pengertian pop up merupakan bagian yang dapat bergerak atau memiliki unsur tiga dimensi serta memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik, mulai dari tampilan gambar yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka baik itu berupa buku, kartu ucapan atau box. Sedangkan menurut Robert dalam Wardhani (2015:22). Pop up dapat diartikan sebagai box, kartu ucapan atau buku yang berisi catatan atau kertas bergambar tiga dimensi yang mengandung unsur interaktif pada saat dibuka seolah-olah ada sebuah benda yang muncul dari dalam buku, kartu atau box.

Pendapat diatas dapat diketahui bahwa Pop up merupakan sebuah tampilan tiga dimensi yang mengandung unsur interaktif yang menarik yang dapat bergerak pada saat dibuka seolah-olah ada sebuah benda yang muncul dari tiap bukaannya berupa box atau kotak. Pop up dalam pembuatannya menggunakan kertas dan tehnik melipat. Oleh karena itu media Pop Up Box dapat memberikan kesan menarik bagi pembacanya, dengan demikian pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Terdapat beberapa penelitian yang mengkaji tentang model pembelajaran pop up. Pertama PTK dari Nausyad Em’a Istasfi (2016) mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang berjudul Keefektifan Media Pop Up terhadap Pemahaman Konsep Hewan dalam Pembelajaran IPA pada Siswa Tunagrahita Kategori Sedang Kelas IV SDLB di SLB N 1 Sleman. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa media Pop Up efektif terhadap pemahaman konsep hewan dalam pembelajaran IPA pada siswa tunagrahita kategori sedang kelas IV SDLB di SLB N 1 Sleman. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya persentase keberhasilan siswa yang signifikan pada fase intervensi dan mampu melebihi batas KKM yang telah ditentukan yakni 68%. Selain itu juga ditukkan dengan adanya peningkatan persentase mean level dari baseline-1 (A) ke intervensi (B). Persentase pada mean level pada baseline-1 53,8% dan pada intervensi menjadi 82,5%. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan persentase keberhasilan yang didapatkan siswa hingga 28,7 %, sehingga hasil tersebut telah melampaui hasil persentase keberhasilan skor yang telah ditentukan yaitu 68%. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa melalui media Pop Up, pemahaman siswa tentang konsep hewan dapat meningkat, sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media Pop up efektif terhadap pemahaman konsep hewan dalam pembelajaran IPA pada siswa tunagrahita kategori ringan.

Kedua PTK dari Agustania Haryanti (2017) Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang berjudul Keefektifan Media Pop-Up Book pada Model Pembelajaran Cooperative Learning Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V Sd Negeri Di Gugus Diponegoro Karangrayung Grobogan. Hasil observasi penggunaan media menunjukkan rata-rata skor akhir ketercapaian kelas eksperimen 94,79%, lebih tinggi daripada kelas kontrol 79,17%. Hasil penelitian menunjukkan data kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal dan homogen. Harga thitung lebih besar daripada harga ttabel (7,139 > 1,997) dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, berarti Ha diterima yaitu ada perbedaan rata-rata antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Besar peningkatan pada kelas eksperimen terlihat dari rata-rata gain ternormalisasi yaitu 0,668 (kategori sedang). Ketercapaian penggunaan media kelas eksperimen yang lebih tinggi dan peningkatan hasil belajar IPS kelas eksperimen disebabkan adanya pengaruh penggunaan media pop-up book pada model cooperative learning.

Keseluruhan penelitian di atas mengkaji tentang model pembelajaran pop up untuk melihat pengaruhnya terhadap pembelajaran IPA dan IPS. Penelitian-penelitian terdahulu tersebut memberikan inspirasi pada peneliti untuk memberikan solusi terhadap permasalahan belajar sejarah di SMA BSS Malang karena masalah yang difokuskan terkait dengan upaya peningkatan hasil belajar. Seorang guru harus mempersiapkan media pengajaran yang paling tepat untuk menggunakannya dalam aktivitas pengajaran dengan cara tatap muka. Salah satu media pembelajaran yang dapat diterapkan di era pascapademi Covid-19 yaitu media pop-up book. Media pop-up book yaitu sebuah buku yang mengandung unsur 3 dimensi ketika halaman dibuka bagian dalamnya dapat menghasilkan gerakan, serta memberikan visualisasi yang lebih menarik untuk meningkatkan pemahaman anak terkait materi.

 

B.   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, didapatkan gambaran permasalahan yang dihadapi antara lain :

  1. Tingkat efektivitas Pop Up dalam pembelajaran sejarah
  2. Hasil belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas X4 SMA BSS Malang melalui media Pop Up

 

 

C.   Analisis Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut maka analisis masalah dalam penelitian ini adalah peningkatan keaktifan belajar sejarah siswa melalui model pembelajaran Pop Up mata pelajaran sejarah kelas X4 2021/2022 SMA Brawijaya Smart School Malang

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana tingkat efektivitas Pop Up dalam pembelajaran sejarah?
  3. Bagaimana Hasil belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas X4 SMA BSS Malang melalui media Pop Up

 

E.   Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:

  1. Mendeskripsikan penggunaan Media Pop Up pada pelajaran Sejarah Indonesia untuk meningkatkan efektivitas siswa kelas X4 di SMA Brawijaya Smart School tahun 2021/2022
  2. Mendeskripsikan penggunaan Media Pop Up pada pelajaran Sejarah Indonesia untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X4 di SMA Brawijaya Smart School tahun 2021/2022

 

F.  Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Bagi peneliti

Untuk memberikan pengalaman secara langsung tentang cara bagaimana meningkatkan Efektivitas dan hasil belajar siswa serta dapat menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan di kelas, juga sebagai sarana pengembangan ilmu yang telah diperoleh selama ini, selain itu penelitian ini juga bermanfaat untuk pelatihan peneliti dalam menghadapi permasalahan yang nyata dan mendalam yang sering dihadapi dalam lingkungan sekitar, baik dalam hal pekerjaan maupun dunia pendidikan.

  1. Bagi Jurusan Sejarah Universitas Riau

Sebagai inspirasi bagi penelitian berikutnya dengan tema yang sama untuk lebih kritis dalam memecahkan masalah dalam proses pembelajaran di kelas. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya hasil karya penulisan mahasiswa bagi Jurusan Sejarah Universitas Riau.

  1. Bagi guru

Manfaat yang dapat diperoleh guru dengan adanya penelitian ini adalah efisiensi waktu yang diperlukan untuk menjelaskan materi. Guru dalam proses pembelajaran berfungsi sebagai fasilitator yang akan membimbing dan membantu kesulitan belajar siswa.

  1. Bagi siswa

Manfaat yang dapat diperoleh siswa adalah siswa akan terlibat secara lebih aktif dalam proses pembelajaran dan akan memperoleh ketrampilan membaca dari mata pelajaran sejarah dengan penggunaan Pop Up.

  1. Bagi sekolah

Sebagai salah satu alternatif bagi semua pihak yang berkepentingan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan memberikan dorongan bagi semua tenaga pendidik untuk meningkatkan ketrampilan pembelajaran guna mengatasi kesulitan belajar siswa.

 

BAB II KAJIAN PUSTAKA

 

  1. Penelitian Tindakan Kelas
    1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Berikut definisi dan pengertian penelitian tindakan kelas dari beberapa sumber buku:

  1. Menurut Arikunto, dkk (2006), penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara
  2. Menurut Supardi (2006), penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme pendidik dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat kondisi
  3. Menurut Aqib (2011), penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa
  4. Menurut O’Brien (Mulyatiningsih, 2011), penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan ketika sekelompok orang (siswa) diidentifikasi permasalahannya, kemudian peneliti (guru) menetapkan suatu tindakan untuk
  5. Menurut Kemmis dan Taggart (Padmono, 2010), penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktek itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktek

Tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk mengubah perilaku mengajar guru, perilaku peserta didik di kelas, peningkatan atau perbaikan praktik pembelajaran, dan atau mengubah kerangka kerja melaksanakan pembelajaran kelas yang diajar oleh guru tersebut sehingga terjadi peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses pembelajaran.

 

  1. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Hopkins (1993), penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan (Planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (Observation and evaluation). Sedangkan prosedur kerja dalam

 

penelitian tindakan kelas terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan).

  1. Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan Penellitian Tindakan Kelas, seperti: menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pembuatan media
  2. Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan, skenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan serta prosedur tindakan yang akan
  3. Observasi (Observe), Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan semua rencana yang telah dibuat dengan baik, tidak ada penyimpangan-penyimpangan yang dapat memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan cara memberikan lembar observasi atau dengan cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.
  4. Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh atas yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah Berdasarkan langkah ini akan diketahui perubahan yang terjadi. Bagaimana dan sejauh mana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.

 

B.   Media Pembelajaran

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu dalam proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar (Sardiman, 1986: 16-17). Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran/pelatihan.

Media pembelajaran menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT) adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Cakupan dalam media tersebut sangat luas, yaitu termasuk manusia, materi atau kajian yang membangun suatu kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.

Fungsi media pembelajaran menurut Kempt & Dayton (1998) adalah (1) meEfektivitas minat dan tindakan, direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan, (2) Menyajikan

 

informasi, digunakan dalam rangka penyajian informasi di hadapan sekelompok siswa. (3) Memberi instruksi, informasi yang terdapat dalam media harus melibatkan siswa.

Sardiman (2008: 7) menjelaskan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dalam hal ini adalah proses merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sehingga proses belajar dapat terjalin. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan oleh guru sebagai alat bantu mengajar. Dalam interaksi, guru menyampaikan pesan ajaran berupa materi pembelajaran kepada siswa.

Menurut Gagne dan Briggs (1997) yang dikutip oleh Sumiati dan Asra (2009: 160) menekankan pentingnya media pembelajaran sebagai alat untuk merangsang proses belajar. Hal ini diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar mengajar. Azhar (2010: 15) mengatakan bahwa fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.

 

  1. Pop Up

 

Media Pop-Up Book merupakan sebuah alat peraga tiga dimensi yang dapat menstimulasi imajinasi anak serta menambah pengetahuan sehingga dapat mempermudah anak dalam mengetahui penggambaran bentuk suatu benda, memperkaya perbendaharaan kata serta meningkatkan pemahaman anak (Tisna Umi Hanifah, 2014). Hal ini sejalan dengan Ningtiyas, Setyosari, & Praherdiono (2019) yang mengemukakan bahwa Pop-Up Book ialah sebuah kartu atau buku yang ketika dibuka bisa menyajikan konstruksi 3 dimensi atau timbul. (Solichah & Mariana, 2018) juga menjelaskan media Pop-Up Book termasuk jenis media 3D yang mampu memberikan efek menarik, karena setiap halamannya dibuka akan menampakkan sebuah gambar yang timbul dan materi yang terdapat di Pop-Up Book bisa disesuaikan dengan materi ajar yang ingin disampaikan.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media Pop-Up Bookmerupakan sebuah buku tiga yang memiliki unsur 3 dimensi yang dapat bergerak saat halaman dibuka, serta memberikan visualisasi maupun tampilan yang lebih menarik untuk meningkatkan pemahaman siswa terkait materi.

 

D.     Efektivitas Belajar

Efektivitas merupakan pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternative atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainya. Efektivitas bias juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Jika dilihat dari istilah tersebut, maka terdapat dua suku kata yang berbeda, yakni efektivitas dan pembelajaran. Makna efektivitas itu sendiri adalah ketepatgunaan, hasil guna, menunjang tujuan. Sedangkan pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, dimana kegiatan guru sebagai pendidik harus mengajar dan murid sebagai terdidik yang belajar. maka pembelajaran dapat dikatakan efektif, apabila dapat mempasilitasi pemerolehan pengetahuan dan keterampilan si belajar melalui penyajian informasi dan aktivitas yang dirancang untuk membantu memudahkan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan

khusus belajar yang diharapkan.

 

E.     Hasil Belajar

Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999: 45), hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Dilihat dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran. Hasil belajar juga dapat diartikan sebagai hasil terbaik dari usaha belajar yang dilakukan oleh siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar dalam bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu yang diwujudkan dengan nilai-nilai mata pelajaran.

Nana Sudjana (2004: 22-23) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran. Hasil belajar sangat dibutuhkan untuk mengetahui taraf keberhasilan rencana dan pelaksanaan belajar mengajar. Hasil belajar dinyatakan dalam klasifikasi yang dikembangkan dalam taksonomi bloom. Kemampuan atau ranah tujuan pendidikan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor.

 

F.  Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis tindakan adalah “Peningkatan Keaktifan Belajar Sejarah Siswa Melalui Model Pembelajaran Pop Up Mata Pelajaran Sejarah Kelas X4 2021/2022 SMA Brawijaya Smart School Malang.

 

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X4 SMA Brawijaya Smart School tahun ajaran 2021-2022 yang berjumlah 36 peserta didik dengan rincian 19 perempuan dan 17 laki-laki.

 

B.   Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian ini dilaksanakan di SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL yang berada di Jalan Cipayung 10 Malang. Penelitian ini akan dilaksanakan selama kurang lebih 3 minggu, yaitu antara bulan Januari sampai dengan  Maret 2022. Penelitian diawali dengan melakukan pra survei untuk mengetahui jumlah siswa kelas X4 dan diakhiri dengan pengumpulan data penelitian.

 

C.   Deskripsi Siklus

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang difokuskan pada peningkatan efektivitas dan hasil belajar peserta didik, dengan desain penelitian menggunakan model yang diciptakan oleh Kemmis dan Taggart.

 

Gambar 3.1 Desain PTK model Kemmis dan Taggart (diadaptasi dari Kasihani Kasbolah E.S, 1998)

 

Model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart ini dilakukan melalui empat tahapan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, obsevasi dan refleksi. Alur Siklus tersebut saling kerkelanjutan dan berkesinambungan. Siklus pertama dilakukan berdasarkan masalah yang teramati, jika hasilnya masih kurang maka dilanjutkan ke siklus berikutnya yang merupakan perbaikan dari siklus pertama. Siklus dihentikan jika hasil penelitian dirasa sudah cukup dan memenuhi tujuan yang diharapkan.

Siklus I

  1. Perencanaan

Tindakan yang direncanakan pada pelaksanaan adalah sebagai berikut:

  • Mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sejarah dan penetapan alternatif pemecahan masalah
  • Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari skenario proses pembelajaran, RPP, bahan ajar, LKPD dan media pembelajaran.
  • Menyusun alat evaluasi
  • Melaksanakan pembelajaran dengan Media Pop Up sesuai skenario proses pembelajaran yang telah

2.    Tindakan

Pada tahap ini tindakan dilaksanakan sesuai yang sudah direncanakan, yaitu:

  • Melakukan refleksi dan analisis terhadap permasalahan-permasalahan temuan observasi Hasil refleksi dan analisis ini kemudian digunakan sebagai acuan untuk menyusun perangkat pembelajaran dan alat perekam data.
  • Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari skenario proses pembelajaran, RPP, bahan ajar, LKPD dan serta media
  • Menyusun alat perekam data yang berupa lembar observasi aktivitas belajar siswa, soal tes hasil belajar, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran media Pop Up.
  • Melaksanakan pembelajaran Media Pop Up dalam materi Menghayati Kedatangan Hindu Buddhasesuai rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah

3.    Pengamatan (Observasi)

Observasi dilakukan untuk mengamati jalannnya kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran dengan Media Pop Up serta kemampuan peserta didik bekerjasama dalam diskusi kelompok dan mengerjakan soal.

 

 

4.    Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan seluruh kegiatan yang sudah dilakukan selanjutnya dilakukan analisis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data. Hasil kesimpulan yang didapat berupa tingkat keefektifan rancangan pembelajaran yang dibuat dan daftar permasalahan serta kendala-kendala yang dihadapi di lapangan. Hasil ini kemudian dijadikan dasar untuk melakukan perencanaan pada siklus II. Analisis dilakukan secara deskripsi terhadap data pengamatan, yaitu dengan menghitung persentase skor indikator yang muncul dari aspek-aspek yang diukur.

 

Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I maka dilakukan tindakan pada siklus II dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1.    Perencanaan (Planning)

Secara umum tahap perencanaan pada tahap ini adalah:

  • Merevisi format skenario pembelajaran siklus I sesuai hasil refleksi
  • Menyusun alat
  • Melaksanakan pembelajaran berdasarkan skenario yang sudah direvisi sesuai hasil refleksi siklus

2.    Pelaksanaan

Proses pelaksanaan siklus II peneliti akan menggunakan panduan perencanaan perbaikan yang telah dibuat oleh peneliti.

  • Merevisi format skenario pembelajaran siklus I sesuai hasil refleksi
  • Melaksanakan
  • Melaksanakan pembelajaran berdasarkan skenario yang sudah direvisi sesuai hasil refleksi siklus I, dengan materi “Kedatangan Hindu-Budha”.

3.    Pengamatan (Observasi)

Sama halnya dengan siklus I, Observasi dilakukan untuk mengamati jalannnya kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran dengan Media Pop Up keaktifan siswa dan kemampuan siswa bekerjasama dalam diskusi kelompok serta pengerjaan soal.

4.    Refleksi

Peneliti akan menganalisis data yang telah dikumpulkan pada lembar pengamatan dan lembar hasil kerja peserta didik. Kemudian peneliti akan melihat keberhasilan dalam siklus ini untuk menarik kesimpulan.

 

 

Siklus III

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II maka dilakukan tindakan pada siklus III dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1.    Perencanaan (Planning)

Secara umum tahap perencanaan pada tahap ini adalah:

  • Merevisi format skenario pembelajaran siklus II sesuai hasil refleksi II.
  • Menyusun alat
  • Melaksanakan pembelajaran berdasarkan skenario yang sudah direvisi sesuai hasil refleksi siklus

2.    Pelaksanaan

Proses pelaksanaan siklus III peneliti akan menggunakan panduan perencanaan perbaikan yang telah dibuat oleh peneliti.

  • Merevisi format skenario pembelajaran siklus II sesuai hasil refleksi II.
  • Melaksanakan
  • Melaksanakan pembelajaran berdasarkan skenario yang sudah direvisi sesuai hasil refleksi siklus II, dengan materi “Kerajaan-kerajaan tradisional masa Hindu-Buddha”.

3.    Pengamatan (Observasi)

Sama halnya dengan siklus II, Observasi dilakukan untuk mengamati jalannnya kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran dengan Media Pop Upbaik itu situasi kegiatan belajar mengajar, keaktifan siswa dan kemampuan siswa bekerjasama dalam diskusi kelompok serta pengerjaan soal.

4.    Refleksi

Peneliti akan menganalisis data yang telah dikumpulkan pada lembar pengamatan dan lembar hasil kerja peserta didik. Kemudian peneliti akan melihat keberhasilan dalam siklus ini untuk menarik kesimpulan.

 

D.   Teknik Pengumpulan Data

Berkaitan dengan cara-cara yang ditempuh dalam rangka mendapatkan data dan infomasi yang diperlukan, maka peneliti mengunakan beberapa metode pengumpulan data:

  1. Observasi

Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam kenyataan. Dengan observasi dapat kita peroleh gambaran yang lebih jelas

 

tentang kehidupan sosial, yang sukar diperoleh dengan metode lain. Dengan observasi sebagai alat pengumpul data dimaksud observasi yang dilakukan secara sistematis bukan observasi sambil-sambilan atau secara kebetulan saja. Dalam observasi ini diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan yang sebenarnya tanpa usaha yang disengaja untuk mempengaruhi, mengatur atau memanipulasikannya. Mengadakan observasi menurut kenyataan, melukiskannya dengan kata-kata secara cermat dan tepat apa yang diamati, mencatatnya kemudian mengolahnya dalam rangka masalah yang diteliti secara ilmiah bukanlah pekerjaan yang mudah. Selalu akan dipersoalkan hingga manakah hasil pengamatan itu valid dan reliable.

Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar dengan menggunakan pedoman observasi kegiatan pembelajaran, catatan lapangan, dan foto, dengan tujuan memperoleh data tentang proses penggunaan media audio visual sebagai media pembelajaran

 

  1. Dokumentasi

Menurut Goetz dan LeCompte dokumentasi adalah dokumen yang menyangkut para partisipan penelitian akan menyediakan kerangka bagi data yang mendasar, seperti koleksi dan analisis buku teks, kurikulum dan pedoman pelaksanaannya, arsip penerimaan murid baru, catatan rapat, catatan tentang siswa, rencana pelajaran dan catatan guru dan hasil karya siswa. Uraian di atas dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan dan menganalisa arsip- arsip tertulis yang dimiliki SMA Brawijaya Smart School, Dokumentasi disini dapat berupa foto proses pembelajaran maupun video penelitian yang dilakukan di kelas X4tahun ajaran 2020-2021.

 

  1. Angket/ Kuesioner

Angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui, (Arikunto 2006:124). Angket yang digunakan oleh peneliti adalah angket tertutup yaitu terdiri atas pertanyaan atau pernyataan dengan sejumlah jawaban tertentu sebagai pilihan. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan angket tertutup atau kuesioner tentang sejauhmana penggunaan Media Pop Up dapat meningkatkan efektivitas dan hasil belajar. Untuk angket tertutup, yang digunakan oleh peneliti berbentuk rating scale (skala bertingkat), Respons individu terhadap stimulus (pernyataan-pernyataan) sejauhmana penggunaan Pop Up  sebagai media penyampaian perangkat pembelajaran dan kegiatan belajar terdiri dari jawaban sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat

 

tidak setuju. Hasil dari jawaban yang diberikan pada setiap pernyataan mempunyai skor tersendiri dan akan dianalisis sehingga dapat diambil kesimpulan.

 

 

  1. Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan dan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan Media Pop Uppada mata pelajaran Sejarah Indonesia. Data yang diperoleh oleh peneliti untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa dengan membandingkan hasil evaluasi Siklus I, Siklus II dan Siklus III.

 

E.   Instrumen Penelitian

  1. Lembar Tes

Lembar tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Bentuk tes yang digunakan adalah tes obyektif dengan bentuk pilihan ganda. Lembar tes yang digunakan adalah lembar pretest dan posttest. Adapun peneliti menggunakan tes bentuk obyektif dengan pertimbangan bahwa :

  1. Tingkat kesukaran yang baik
  2. Daya pembeda yang baik
  3. Tingkat validitas yang cukup tinggi
  4. Tingkat reabilitas yang cukup tinggi Kebaikan bentuk soal pilihan ganda, meliputi :
  1. Materi yang diajukan dapat mencakup sebagian besar dari bahan pengajaran yang telah diberikan
  2. Jawaban siswa dapat dikoreksi dengan mudah dan cepat
  3. Jawaban untuk setiap pertanyaan sudah pasti benar atau salah sehingga penilaiannya bersifat obyektif (Sudjana, 2005: 49).
    1. Lembar Keterlaksanaan Proses Pembelajaran

Lembar pengamatan keterlaksanaan pembelajaran dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung selama pembelajaran berlangsung dan diisi oleh kelas atau observer (pengamat). Guru kelas atau observer akan mengamati dan menilai proses pembelajaran serta pengamatan ini berfungsi untuk mengetahui apakah pembelajaran yang dilakukan sudah sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang sudah direncanakan.

  1. Lembar Angket

 

Lembar angket ini digunakan untuk mengetahui repson peserta didik terhadap pembelajaran menggunakan model pembelajaran discovery learning.

 

F.  Teknik Analisis Data

  1. Kualitatif dan Kuantitatif

Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan beberapa prosedur diatas, maka peneliti akan mengelola dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Tujuan dari analisis data ini antara lain adalah (1) Data dapat diberi arti makna yang berguna dalam memecahkan masalah-masalah penelitian. (2) Memperlihatkan hubungan-hubungan antara fenomena yang terdapat dalam penelitian. (3) Untuk memberikan jawaban terhadap hipotesis yang diajukan dalam penelitian (4) Bahan untuk membuat kesimpulan serta implikasi-implikasi dan saran-saran yang berguna untuk kebijakan- kebijakan penelitian selanjutnya.

Deskriptif kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi- situasi atau kejadian- kejadian. Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel bebas yaitu pemanfaatan internet sebagai sumber belajar dan variabel terikat yaitu Efektivitas belajar siswa. Dalam analisis kualitatif ini, perhitungan yang digunakan untuk mengetahui tingkat persentase skor jawaban dari masing-masing responden digunakan rumus sebagai berikut:

Persentase Skor DP = n/N x 100%

Keterangan:

Dimana, DP : Deskriptif persentase N : jumlah skor Jawaban responden

N : jumlah skor jawaban Ideal (Ali, 1987:186).

 

Sedangkan data yang bersifat kuantitatif seperti data hasil observasi keaktifan siswa dianalisis dengan menggunakan analisa deskriptif dan sajian visual. Sajian tersebut menggambarkan bahwa dengan tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan adanya perbaikan, peningkatan, perubahan, kearah yang lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Untuk mengetahui hasil tindakan yang telah dilakukan dapat menimbulkan perbaikan, peningkatan dan perubahan dari keadaan sebelumnya, maka peneliti menggunakan rumus:

 

P = Post rate-base rate x 100%

base rate

 

Keterangan:

P = Presentase peningkatan

Post rate = Nilai rata-rata sesudah tindakan Base rate = Nilai rata-rata sebelum peningkatan

 

2.  Analisis Butir Soal

Sebelum soal-soal digunakan sebagai instrumen penelitian perlu untuk diuji coba. Uji coba soal dengan menggunakan:

  1. Validitas Item

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diiginkan. (Suharsimi, 2010:211)

Validitas digunakan dengan menggunakan perumusan:

 

=           ∑ −(∑ )(∑ )

√{ ∑ 2−(∑ )2}{ ∑ 2−(∑ )2}

(3.1)

 

(Suharsimi, 2010:211)

 

Keterangan:

=Koefisien korelasi antara dua variabel yang dikorelasikan (variabel X dan variabel Y)

∑     = Jumlah X skor butir soal

2 = Jumlah kuadrat X skor butir soal

∑     = Jumlah Y skor butir soal

2 = Jumlah kuadrat Y skor butir soal

∑ = Jumlah hasil kali skor butir soal dengan skor total

      = Jumlah peserta tes

 

 

Kriteria valid : jika > item dikatakan valid.

Dari perhitungan validitas butir soal akan diperoleh kriteria koefisien korelasi validitas sebagai berikut:

0,81 – 1,00         : sangat tinggi

0,61 – 0,80         : tinggi

0,41 – 0,60         : cukup

0,21 – 0,40         : rendah

0,00 – 0,20         : sangat rendah

 

 

  1. Reliabilitas Item

 

Dari soal-soal yang divalidasi, kemudian dicari reliabelnya dengan menggunakan rumus Spermen Brown sebagai berikut:

211

11 =        12

1 + 11

12

 

 

 

Dengan,

 

                                          

∑ −(∑ )(∑ )

11 =

12            √{ ∑ 2−(∑ )2}{ ∑ 2−(∑ )2}

 

(3.2)

 

(Suharsimi.2006;93)

 

11 = Reliabilitas seluruh butir soal

11 = sebagai indeks korelasi antara dua belahan instrumen

12

Kesimpulan: instrumen dinyatakan reliabel jika 11 >

 

  1. Taraf Kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang mudah tidak merangsang siswa untuk berusaha dalam memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya (Arikunto Suharsimi, 2009:207).

Dalam penelitian ini dilakukan uji taraf kesukaran soal, untuk memperoleh soal yang baik, yaitu yang tingkat kesukarannya sedang. Rumus untuk mencari taraf kesukaran (TK) adalah :

 

=

 

 

 

Keterangan :

P= indeks kesukaran

(3.4)

 

(Suharsimi, 2003:208)

 

B            = banyak siswa yang menjawab dengan benar JS  = jumlah seluruh peserta tes

Indeks hasil perhitungan diatas, dikonsultasikan dengan tabel tingkat kesukaran, yaitu :

 

Tabel 3.2 Kriteria Tingkat Kesukaran

 

Nilai Tingkat

Kesukaran

≤ 0,30 Sukar
0,30 ≤

≤ 0,70

Sedang
> 0,70 Mudah

(Suharsimi, 2003:208)

 

 

  1. Daya Beda

Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Rumus untuk menentukan daya pembeda adalah:

 

D =  −

(3.3)

 

 

 

Keterangan :

D = daya pembeda

= jumlah jawaban benar tiap soal kelompok atas

= jumlah jawaban benar tiap soal kelompok bawah

    = banyak peserta kelompok atas

= banyak peserta kelompok bawah

(Suharsimi, 2009:213)

 

Indeks hasil perhitungan diatas, dikonsultasikan dengan tabel tingkat daya pembeda, yaitu:

Tabel 3.3 Kriteria Daya Beda Soal

 

Indeks Daya Pembeda Kriteria Daya Pembeda
≤ 0,20 Buruk
0,20 < ≤ 0,40 Sedang
0,41 < ≤ 0,70 Baik
> 0,70 Baik sekali

(Direktorat pembinaan SMA, 2010:128)

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

 

A.   HASIL PENELITIAN

  1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan di SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL pada mata pelajaran Sejarah Indonesia yang dilaksanakan sebanyak tiga siklus. Pada setiap siklus hanya satu kali pertemuan, dari sampai kegiatan evaluasi pembelajaran. Sebelum kegiatan penelitian  dilakukan, peneliti melakukan observasi terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi awal aktivitas peserta didik di kelas. Kelas yang akan diteliti adalah kelas X4, dengan jumlah peserta didik sebanyak 36 anak. Dalam penelitian ini, pengambilan data dilakukan selama 3 minggu. Hasil penelitian tindakan kelas dari siklus I, II dan III dalam penggunaan Pop Up  untuk meningkatkan efektivitas dan hasil belajar peserta didik akan diuraikan dalam penelitian ini.

 

2.  Siklus I

Siklus I dilaksanakan selama seminggu pada tanggal 19 – 24 Februari 2022digunakan untuk menyiapkan perangkat pembelajaran, merencakan penelitian siklus 1, kegiatan pembelajaran tentang “Kedatangan Hindu Buddha” sampai kegiatan evaluasi pembelajaran. Kegiatan pembelajaran siklus 1 dilakukan secara daring menggunakan Media Pop Up dan Zoom Meeting yang dihadiri oleh 36 peserta didik. Pada siklus pertama ini mulai diterapkan Media Pop Up yang akan diuraikan sebagai berikut:

a.  Perancanaan Siklus I

Pada tahap perencanaan ini, peneliti melakukan penyusunan tindakan berupa perangkat pembelajaran di kelas. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan siklus I, yaitu:

1)   Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP merupakan rancangan kegiatan pembelajaran di kelas yang berupa langkah-langkah peneliti dalam menentukan proses pembelajaran. RPP dibuat untuk kegiatan pembelajaran daring menggunakan Pop Up  dan Zoom. Dalam perencanaan siklus I ini peneliti membuat RPP 1 pertemuan tentang Kedatangan Hindu Buddha. Dalam penyusunan RPP  ini peneliti melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing maupun guru pamong.

 

2)   Mempersiapkan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran yang digunakan pada siklus I ini adalah Kedatangan Hindu Buddha yang diambil dari Kompetensi Dasar (KD) 3.4 Memahami tentang pola perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia serta peninggalannya hingga kini.

3)   Membuat Lembar Kerja Siswa

Pada penelitian ini, lembar kerja siswa yang digunakan siswa yaitu berupa pertanyaan atau soal yang harus didiskusikan dalam kelompok yang dapat dipertanggung jawabkan oleh setiap anggota kelompok.

4)   Media Pembelajaran

Media pembelajaran yang digunakan secara daring adalah PPT yang disampaikan melalui

Pop Up  dan Zoom Meeting.

 

b.  Pelaksanaan Siklus I

Pada tindakan siklus I ini, pembelajaran daring yang digunakan sesuai dengan RPP yaitu dengan memanfaatkan Pop Up  dan Zoom Meeting. Siklus I I ini dilakukan pada hari Selasa, 22 Februari 2022. Materi yang diajarkan adalah tentang “Kedatangan Hindu Buddha” siklus I ini diawali dengan guru mengunggah presensi, bahan ajar, PPT, LKPD dan Evaluasi Pembelajaran di Pop Up . Setelah itu guru melakukan koordinasi dengan peserta didik dan membuat kelas online di Zoom Meeting yang diawali dengan mengucapkan salam dan doa, melakukan presensi serta menanyakan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pada kegiatan Inti guru menanyangkan ppt dan menjelaskan meteri secara garis besar. Peneliti juga mengaitkan Kedatangan Hindu Buddhadengan masa sekarang, terlihat siswa kurang antusias dalam menanggapi penjelasan dari peneliti, tiga orang siswa yang aktif menjawab pertanyaan. Peneliti kemudian berusaha membuat pertanyaan dan melempar kepada siswa yang kurang antusias agar mereka mau mencari jawaban yang sesuai dengan soal yang diberikan oleh guru. Berikutnya kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Guru membagi 3 kelompok dengan bahasan/ tema yang berbeda untuk didiskusikan dan dipresentasikan.

Pada saat diskusi kelompok, peneliti mengamati jalannya diskusi masih ada peserta didik yang kurang aktif berdiskusi dengan teman kelompoknya, kemudian peneliti menjelaskan kepada semua peserta didik bahwa peneliti akan menilai keaktifan dalam kelompok masing-masing. Selanjutnya peneliti memanggil kelompok yang sudah selesai menjawab pertanyaan. Pada pertemuan pertama ini ada tiga kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi bersama anggota kelompoknya.

 

Pada akhir pembelajaran, peneliti bersama siswa menarik kesimpulan terkait materi yang sudah dipelajari. Selain itu peneliti menunjuk salah satu peserta didik untuk menyimpulkan materi dan mengungkapkan refleksi pembelajaran yang sudah diperoleh dalam kegiatan tersebut. Kemudian peneliti memberikan penguatan dan memberikan apresiasi. Setelah itu guru mengarahkan peserta didik untuk mengerjakan evaluasi pembelajaran yang sudah guru siapkan di Pop Up  untuk mengukur hasil belajar.

c.  Pengamatan (Observasi) Siklus I

Observasi dilakukan secara kolaboratif antara peneliti. Observasi dilakukan untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran, Efektivitas peserta didik dan hasil belajar peserta didik setelah diterapkan Media Pop Updalam pembelajaran. Dalam melihat Efektivitas peserta didik dilakukan dengan menyebarkan angket atau kuesioner. Sedangkan hasil belajar peserta didik dilihat dari hasil post test atau evaluasi pembelajaran yang diberikan pada akhir siklus I. Hasil dari observasi yang sudah dilakukan oleh peneliti dan observer adalah sebagai berikut:

1)   Pengamatan Hasil Belajar Siklus I

Proses pembelajaran pada siklus I sudah berjalan cukup baik. Post-test pembelajaran dilaksanakan pada pertemuan pertama yaitu pada hari kamis tanggal 22 Februari 2022 dengan menggunakan soal pilihan ganda berjumlah 10 butir. Data hasil belajar siswa siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Hasil Belajar Sejarah Indonesia Siklus I

 

No.

 

Nama

 

Nilai

Keterangan
Lulus Tidak Lulus
1. Abu Bakar 90 Ö  
2 Al Fayyed Reza Nugraha 80 Ö  
3 Alexander Stormy Bramantyo 60   Ö
4 Altaira Nabila Puja Prasasti 70 Ö  
5 Athallah Raziqo Zaydan Fauzta 60   Ö
6 Aurellia Athallah 70 Ö  
7 Berliana Lossus Marta Rodena 60   Ö
8 Bernadette Paula Ade Putri 70 Ö
9 Chico Kymas Gading Nanshandy 90 Ö  
10 Chiquita Vania Laila Fedora 50   Ö
11 Dyandra Rizqullah Ramadhan 90 Ö  
12 Dyna Aliifia Isyana 90 Ö  
13 Dzaky Abdullah Mannan 70 Ö  
14 Early Chelsealia Az Zahra 50   Ö
15 Evelyn Agustina 50   Ö
16 Fasta Hasby Nur Iman Akbar 60   Ö
17 Fernando Refangga Saputra Frans Matacco 20   Ö

 

18 Gebril Ratu Palayukan 80 Ö  
19 Luna Aprilia Fitri Nasuha 70 Ö  
20 Maudy Kusuma Ramadhani 60   Ö
21 Muhammad Mirza Alfarizi 90 Ö  
22 Nabila Araminta Pramesti 50   Ö
23 Namira Paramitha Putri 70 Ö  
24 Nasya Estrella Nirwasita 60   Ö
25 Nathan Putra Utama 70 Ö
26 Nayfa Azzahra Audrey Setiawan 70 Ö  
27 Oktorian Dwiken Yudhistira 60   Ö
28 Regina Assaudah Mahmuddin 70 Ö  
29 Rizkia Nur Yaswa 50   Ö
30 Sally Savista Anindya 50   Ö
31 Satriananda Ahadya Bintang Rahadian 50   Ö
32 Surya Pradipta 50   Ö
33 Titus Zuriel Hariyoso 50   Ö
34 Tsabitha Alya Kansa Mahirah 70 Ö  
35 Febbyana Putri Valentine 50   Ö
36 Adellio 50   Ö
Jumlah 2300 17 19
Prosentase   45% 55%
Rata-rata 64    

 

Berdasarkan data prestasi belajar peserta didik pada siklus I yang mencapai KKM berjumlah 17 anak atau 45% dan peserta didik yang belum mencapai KKM berjumlah 19 anak atau 55%. Nilai paling tinggi yang didapat peserta didik adalah 90, sedangkan yang terendah adalah 36, disebabkan kecakapan yang kurang baik. Rata-rata yang dicapai pada siklus I ini adalah 64. Untuk mengetahui kriteria hasil belajar sejarah indonesia peserta didik kelas X4ditunjukkan dalam tabel 4.2 di bawah ini:

Tabel 4.2 Data Kriteria Hasil Belajar Sejarah Indonesia Siklus I

 

 

No

 

Kriteria

Skala Prestasi  

Frekuensi

Prosentase (%) Rata- rata
1. Sangat Tinggi 90-100 5 14  

 

64

2. Tinggi 80-89 2 6
3. Cukup 70-79 10 28
4. Rendah 60-69 7 19
5. Sangat Rendah 0-59 12 33
Jumlah   36 100

Berdasarkan tabel 4.2 di atas, peserta didik dengan kriteria hasil belajar sangat tinggi adalah 5 anak atau 14%, kriteria tinggi berjumlah 2 anak atau 6%, kriteria cukup berjumlah 10 anak atau 28%, kriteria rendah berjumlah 7 anak atau 19% dan sangat rendah berjumlah 12 anak atau 33%. Untuk mengetahui jumlah prosentase hasil belajar sejarah indonesia peserta didik kelas X4 SMA BSS Malang dapat dilihat pada gambar 4.1 di bawah ini:

Prosentase Hasil Belajar SIklus I
33%
14%

6%

19%
28%
Sangat Tinggi

Tinggi Cukup Rendah

Sangat Rendah

Gambar 4.1 Prosentase Hasil Belajar Sejarah Indonesia Siklus I

 

2)   Pengamatan Efektivitas Belajar Awal

Selama proses pembelajaran menggunakan media Pop Up , peneliti melihat pelaksanaan pembelajaran dan efektivitas peserta didik selama mengikuti kegiatan belajar. Berdasarkan hasil angket terhadap efektivitas peserta didik pada siklus I, menunjukkan bahwa peserta didik sudah menunjukkan respon positif walaupun masih ada sebagian peserta didik yang belum terlibat aktif. Tidak semua peserta didik memiliki efektivitas belajar sesuai dengan indikator yang akan dicapai. Hal ini dapat dilihat dari data yang menunjukkan sebagian besar indikator belum mencapai indikator keberhasilan. Berikut ini perolehan masing-masing aspek efektivitas belajar 36 peserta didik pada tiap indikator pada pertemuan pertama siklus I:

Tabel 4.3 Hasil Kuesioner Efektivitas Belajar

No Pertanyaan Poin
1 Belajar sejarah membuat saya senang 81
2 Pelajaran sejarah membuat saya semakin tahu tentang Indonesia 91
3 Pelajaran Sejarah membuat saya mengantuk dikelas 75
4 Bagi saya pelajaran Sejarah kurang bermanfaat 84
5 Pada awal pembelajaran sejarah Indonesia saya mendapat pengetahuan yang

baru

87
6 Ketika saya belajar sejarah Indonesia saya menjadi lebih menghargai perbedaan 84
7 Menurut saya buku pelajaran sejarah yang tak bergambar membuat saya

ngantuk

74
8 Menurut saya isi materi pelajaran sejarah kurang sesuai dengan minat saya 79
9 Menurut saya tugas pelajaran sejarah terlalu kompleks membuat saya malas

mengerjakan tugas tersebut

80
10 Menurut saya sulit memahami materi sejarah dikarenakan materi terlalu

kompleks

76
11 Saya mendapatkan banyak nilai nilai nasionalisme dari pembelajaran sejarah 85
12 Saya sulit mendapatkan nilai nilai yang berharga dalam pelajaran sejarah 84
13 Saya lebih menyukai pelajaran bahasa Indonesia dari pada pelajaran sejarah 68
14 Saya sulit memahami pelajaran sejarah dikarenakan minim media pembelajaran 74
15 Saya mudah memahami pelajaran sejarah dikarenakan menggunakan media

pembelajaran

83
16 Saya dapat memahami materi sejarah dengan menggunakan contoh dari salah

satu peristiwa sejarah

84
17 Isi dari pelajaran sejarah dapat saya pahami 79
18 Saya tidak dapat menangkap isi dari pembelajaran sejarah 76
19 Saya dapat menjabarkan kembali materi sejarah yang telah disampaikan oleh

guru

72
20 Saya sulit menjabarkan kembali materi sejarah yang disampaikan oleh guru 74

 

Hasil angket efektivitas belajar dari 36 peserta didik dengan 20 indikator pada siklus I menunjukkan bahwa total nilainya adalah 1590 dengan rata-rata 79,5%. Dari data tersebut dapat disimpulkan beberapa siswa mulai memiliki efektivitas belajar dalam pembelajaran tetapi masih banyak juga siswa yang masih pasif dalam proses pembelajaran.

  1. Refleksi

Refleksi siklus I dilakukan terhadap proses pembelajaran Sejarah Indonesia di kelas yang dilakukan dengan memanfaatkan Media Pop Up berlangsung cukup baik, meskipun masih terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran. Kendala yang masih terjadi pada siklus I yaitu masih ada peserta didik yang kurang aktif karena kondisi sinyal atau jaringan yang kurang baik. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kesiapan dari peneliti dalam melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Adapun yang harus ditingkatkan peneliti dalam mengelola kelas dengan baik, memanajemen waktu dengan baik dan tegas dalam proses pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan efisien.

Pada siklus pertama peneliti menjelaskan dalam penggunaan Pop Up  siswa harus aktif dalam diskusi kelompok, siswa harus menguasai materi dan bekerja sama dalam kelompok tetapi harus ada upaya dari peneliti agar pembelajaran menjadi efektif dan efisien dengan cara peneliti harus berupaya agar siswa lebih berantusias dalam mempelajari materi yang diberikan, peneliti harus membuat suasana di dalam kelas lebih menyenangkan. Dengan demikian siswa akan senang mempelajari sejarah tanpa adanya paksaan.

Berdasarkan hasil refleksi di atas, diharapkan dalam siklus selanjutnya dalam penggunaan Media Pop Up siswa lebih bersemangat, serta timbul kesadaran dan kemauan dalam belajar sejarah.

3.  Siklus II

Siklus II dilaksanakan selama seminggi pada tanggal 26 Oktober – 4 November 2020 digunakan untuk menyiapkan perangkat pembelajaran, merencakan penelitian siklus II, kegiatan pembelajaran tentang “Hindu Buddha” sampai kegiatan evaluasi pembelajaran. Kegiatan pembelajaran siklus II dilakukan secara daring menggunakan Media Pop Up dan Zoom Meeting yang dihadiri oleh 20 peserta didik. Pada siklus II ini mulai diterapkan Media Pop Up yang akan diuraikan sebagai berikut:

a.  Perancanaan Siklus II

Pada tahap perencanaan ini, peneliti melakukan penyusunan tindakan berupa perangkat pembelajaran di kelas. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan siklus II, yaitu:

1)   Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP merupakan rancangan kegiatan pembelajaran di kelas yang berupa langkah-langkah peneliti dalam menentukan proses pembelajaran. RPP dibuat untuk kegiatan pembelajaran daring menggunakan Pop Up  dan Zoom. Dalam perencanaan siklus II ini peneliti membuat RPP 1 pertemuan tentang Hindu Buddha. Dalam penyusunan RPP ini peneliti melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing maupun guru pamong.

2)   Mempersiapkan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran yang digunakan pada siklus II ini adalah Hindu Buddha yang diambil dari Kompetensi Dasar (KD) 3.4 Memahami tentang pola perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia serta peninggalannya hingga kini.

3)   Membuat Lembar Kerja Siswa

Pada penelitian ini, lembar kerja siswa yang digunakan siswa yaitu berupa pertanyaan atau soal yang harus didiskusikan dalam kelompok yang dapat dipertanggung jawabkan oleh setiap anggota kelompok.

4)   Media Pembelajaran

Media pembelajaran yang digunakan secara daring adalah PPT yang disampaikan melalui

Pop Up  dan Zoom Meeting.

 

b.  Pelaksanaan Siklus II

Pada tindakan siklus II ini, pembelajaran daring yang digunakan sesuai dengan RPP yaitu dengan memanfaatkan Pop Up  dan Zoom Meeting. Siklus II ini dilakukan pada hari Senin, 2 November 2020. Materi yang diajarkan adalah tentang “Hindu Buddha” siklus II ini diawali dengan guru mengunggah presensi, bahan ajar, PPT, LKPD dan Evaluasi Pembelajaran di Pop Up . Setelah itu guru melakukan koordinasi dengan peserta didik dan membuat kelas online di Zoom Meeting yang diawali dengan mengucapkan salam dan doa, melakukan presensi serta menanyakan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pada kegiatan Inti guru menanyangkan ppt dan menjelaskan meteri secara garis besar. Peneliti juga mengaitkan Hindu Buddha dengan masa sekarang, terlihat siswa kurang antusias dalam menanggapi penjelasan dari peneliti, tiga orang siswa yang aktif menjawab pertanyaan. Peneliti kemudian berusaha membuat pertanyaan dan melempar kepada siswa yang kurang antusias agar mereka mau mencari jawaban yang sesuai dengan soal yang diberikan oleh guru. Berikutnya kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Guru membagi 3 kelompok dengan bahasan/ tema yang berbeda untuk didiskusikan dan dipresentasikan.

Pada saat diskusi kelompok, peneliti mengamati jalannya diskusi masih ada peserta didik yang kurang aktif berdiskusi dengan teman kelompoknya, kemudian peneliti menjelaskan kepada semua peserta didik bahwa peneliti akan menilai keaktifan dalam kelompok masing-masing. Selanjutnya peneliti memanggil kelompok yang sudah selesai menjawab pertanyaan. Pada pertemuan pertama ini ada tiga kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi bersama anggota kelompoknya,

Pada akhir pembelajaran, peneliti bersama siswa menarik kesimpulan terkait materi yang sudah dipelajari. Selain itu peneliti menunjuk salah satu peserta didik untuk menyimpulkan materi dan mengungkapkan refleksi pembelajaran yang sudah diperoleh dalam kegiatan tersebut. Kemudian peneliti memberikan penguatan dan memberikan apresiasi. Setelah itu guru mengarahkan peserta didik untuk mengerjakan evaluasi pembelajaran yang sudah guru siapkan di Pop Up  untuk mengukur hasil belajar.

c.  Pengamatan (Observasi) Siklus II

Observasi dilakukan secara kolaboratif antara peneliti. Observasi dilakukan untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran, efektivitas peserta didik dan hasil belajar peserta didik setelah diterapkan Media Pop Up dalam pembelajaran. Dalam melihat efektivitas peserta didik dilakukan dengan menyebarkan angket atau kuesioner. Sedangkan hasil belajar peserta didik dilihat dari hasil post test atau evaluasi pembelajaran yang diberikan pada akhir siklus II. Hasil dari observasi yang sudah dilakukan oleh peneliti dan observer adalah sebagai berikut:

1) Pengamatan Hasil Belajar Siklus II

Proses pembelajaran pada siklus II sudah berjalan cukup baik. Post-test pembelajaran dilaksanakan pada pertemuan kedua yaitu pada hari senin tanggal 2 Maret 2022 dengan menggunakan soal pilihan ganda berjumlah 10 butir. Data hasil belajar siswa siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4 Hasil Belajar Sejarah Indonesia Siklus II

 

No.

 

Nama

 

Nilai

Keterangan
Lulus Tidak Lulus
1. Abu Bakar 80 Ö  
2 Al Fayyed Reza Nugraha 90 Ö  
3 Alexander Stormy Bramantyo 60   Ö
4 Altaira Nabila Puja Prasasti 90 Ö  
5 Athallah Raziqo Zaydan Fauzta 60   Ö
6 Aurellia Athallah 80 Ö  
7 Berliana Lossus Marta Rodena 60   Ö
8 Bernadette Paula Ade Putri 80 Ö  
9 Chico Kymas Gading Nanshandy 70 Ö  
10 Chiquita Vania Laila Fedora 60   Ö
11 Dyandra Rizqullah Ramadhan 80 Ö  
12 Dyna Aliifia Isyana 70 Ö  
13 Dzaky Abdullah Mannan 90 Ö  
14 Early Chelsealia Az Zahra 70 Ö  
15 Evelyn Agustina 80 Ö  
16 Fasta Hasby Nur Iman Akbar 80 Ö  
17 Fernando Refangga Saputra Frans Matacco 80 Ö  
18 Gebril Ratu Palayukan 80 Ö  
19 Luna Aprilia Fitri Nasuha 70 Ö  
20 Maudy Kusuma Ramadhani 90 Ö  
21 Muhammad Mirza Alfarizi 80 Ö  
22 Nabila Araminta Pramesti 80 Ö  
23 Namira Paramitha Putri 70 Ö  
24 Nasya Estrella Nirwasita 80 Ö  
25 Nathan Putra Utama 70 Ö  
26 Nayfa Azzahra Audrey Setiawan 90 Ö  
27 Oktorian Dwiken Yudhistira 70 Ö  
28 Regina Assaudah Mahmuddin 80 Ö  
29 Rizkia Nur Yaswa 80 Ö  
30 Sally Savista Anindya 80 Ö  
31 Satriananda Ahadya Bintang Rahadian 80 Ö  
32 Surya Pradipta 70 Ö  
33 Titus Zuriel Hariyoso 90 Ö  
34 Tsabitha Alya Kansa Mahirah 80 Ö  
35 Febbyana Putri Valentine 90 Ö  
36 Adellio 80 Ö  
Jumlah 2780 32 4
Prosentase   90% 10%
Rata-rata 77    

 

Berdasarkan data prestasi belajar peserta didik pada siklus II yang mencapai KKM berjumlah 32 anak atau 90% dan peserta didik yang belum mencapai KKM berjumlah 4 anak atau 10%. Nilai paling tinggi yang didapat peserta didik adalah 90, sedangkan yang terendah adalah 50, disebabkan kecakapan yang kurang baik. Rata-rata yang dicapai pada siklus II ini adalah 78. Untuk mengetahui kriteria hasil belajar sejarah indonesia peserta didik kelas X4 SMA BSS Malang ditunjukkan dalam tabel 4.5 di bawah ini:

Tabel 4.5 Data Kriteria Hasil Belajar Sejarah Indonesia Siklus I

 

No

 

Kriteria

Skala Prestasi  

Frekuensi

Prosentase (%) Rata- rata
1. Sangat Tinggi 90-100 7 19  

 

77

2. Tinggi 80-89 17 47
3. Cukup 70-79 8 22
4. Rendah 60-69 4 12
5. Sangat Rendah 0-59
Jumlah   36 100
Prosentase Hasil Belajar Siklus II
12%
19%
22%
Sangat Tinggi

Tinggi Cukup Rendah

Sangat Rendah

47%

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, peserta didik dengan kriteria hasil belajar sangat tinggi adalah 7 anak atau 19%, kriteria tinggi berjumlah 17 anak atau 47%, kriteria cukup berjumlah 8 anak atau 22%, kriteria rendah berjumlah 4 anak atau 12% dan sangat rendah sudah tidak ada. Untuk mengetahui jumlah prosentase hasil belajar sejarah indonesia peserta didik kelas X4 SMA BSS Malangdapat dilihat pada gambar 4.2 di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.2 Prosentase Hasil Belajar Sejarah Indonesia Siklus II

d.  Refleksi

Refleksi siklus II dilakukan terhadap proses pembelajaran Sejarah Indonesia di kelas yang dilakukan dengan memanfaatkan Media Pop Up berlangsung cukup baik, meskipun masih terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran. Kendala yang masih terjadi pada siklus II yaitu masih ada peserta didik yang kurang aktif karena kondisi sinyal atau jaringan yang kurang baik. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kesiapan dari peneliti dalam melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Adapun yang harus ditingkatkan peneliti dalam mengelola kelas dengan baik, memanajemen waktu dengan baik dan tegas dalam proses pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan efisien.

Pada siklus pertama peneliti menjelaskan dalam penggunaan Pop Up  siswa harus aktif dalam diskusi kelompok, siswa harus menguasai materi dan bekerja sama dalam kelompok tetapi harus ada upaya dari peneliti agar pembelajaran menjadi efektif dan efisien dengan cara peneliti harus berupaya agar siswa lebih berantusias dalam mempelajari materi yang diberikan, peneliti harus membuat suasana di dalam kelas lebih menyenangkan. Dengan demikian siswa akan senang mempelajari sejarah tanpa adanya paksaan.

Berdasarkan hasil refleksi di atas, diharapkan dalam siklus selanjutnya dalam penggunaan Media Pop Up siswa lebih bersemangat, serta timbul kesadaran dan kemauan dalam belajar sejarah.

4.  Siklus III

Siklus III dilaksanakan selama seminggu pada tanggal 9 – 14 Maret 2022 digunakan untuk menyiapkan perangkat pembelajaran, merencakan penelitian siklus III, kegiatan pembelajaran tentang “Bentuk Akulturasi Kebudayaan Nusantara-Hindu” sampai kegiatan evaluasi pembelajaran. Kegiatan pembelajaran siklus III dilakukan secara daring menggunakan Media Pop Updan Zoom Meeting yang dihadiri oleh 20 peserta didik. Pada siklus III ini mulai diterapkan Media Pop Upyang akan diuraikan sebagai berikut:

a.  Perancanaan Siklus III

Pada tahap perencanaan ini, peneliti melakukan penyusunan tindakan berupa perangkat pembelajaran di kelas. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan siklus III, yaitu:

1)   Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP merupakan rancangan kegiatan pembelajaran di kelas yang berupa langkah-langkah peneliti dalam menentukan proses pembelajaran. RPP dibuat untuk kegiatan pembelajaran daring menggunakan Pop Up  dan Zoom. Dalam perencanaan siklus III ini  peneliti membuat RPP 1 pertemuan tentang Bentuk Akulturasi Kebudayaan Nusantara-Hindu. Dalam penyusunan RPP ini peneliti melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing maupun guru pamong.

2)   Mempersiapkan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran yang digunakan pada siklus III ini adalah Bentuk Akulturasi Kebudayaan Nusantara-Hindu yang diambil dari Kompetensi Dasar (KD) 3.4 Memahami tentang pola perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia serta peninggalannya hingga kini.

3)   Membuat Lembar Kerja Siswa

Pada penelitian ini, lembar kerja siswa yang digunakan siswa yaitu berupa pertanyaan atau soal yang harus didiskusikan dalam kelompok yang dapat dipertanggung jawabkan oleh setiap anggota kelompok.

4)   Media Pembelajaran

Media pembelajaran yang digunakan secara daring adalah PPT yang disampaikan melalui

Pop Up  dan Zoom Meeting.

 

b.  Pelaksanaan Siklus III

Pada tindakan siklus III ini, pembelajaran daring yang digunakan sesuai dengan RPP yaitu dengan memanfaatkan Pop Up  dan Zoom Meeting. Siklus III ini dilakukan pada hari Jumat, 13 November 2020. Materi yang diajarkan adalah tentang “Bentuk Akulturasi Kebudayaan Nusantara-Hindu” siklus III ini diawali dengan guru mengunggah presensi, bahan ajar, PPT, LKPD dan Evaluasi Pembelajaran di Pop Up . Setelah itu guru melakukan koordinasi dengan peserta didik dan membuat kelas online di Zoom Meeting yang diawali dengan mengucapkan salam dan doa, melakukan presensi serta menanyakan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pada kegiatan Inti guru menanyangkan ppt dan menjelaskan meteri secara garis besar. Peneliti juga mengaitkan Hindu Buddha dengan masa sekarang, terlihat siswa kurang antusias dalam menanggapi penjelasan dari peneliti, tiga orang siswa yang aktif menjawab pertanyaan. Peneliti kemudian berusaha membuat pertanyaan dan melempar kepada siswa yang kurang antusias agar mereka mau mencari jawaban yang sesuai dengan soal yang diberikan oleh guru. Berikutnya kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Guru membagi 3 kelompok dengan bahasan/ tema yang  berbeda untuk didiskusikan dan dipresentasikan.

Pada saat diskusi kelompok, peneliti mengamati jalannya diskusi masih ada peserta didik yang kurang aktif berdiskusi dengan teman kelompoknya, kemudian peneliti menjelaskan kepada semua peserta didik bahwa peneliti akan menilai keaktifan dalam kelompok masing-masing. Selanjutnya peneliti memanggil kelompok yang sudah selesai menjawab pertanyaan. Pada pertemuan pertama ini ada tiga kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi bersama anggota kelompoknya,

Pada akhir pembelajaran, peneliti bersama siswa menarik kesimpulan terkait materi yang sudah dipelajari. Selain itu peneliti menunjuk salah satu peserta didik untuk menyimpulkan materi dan mengungkapkan refleksi pembelajaran yang sudah diperoleh dalam kegiatan tersebut. Kemudian peneliti memberikan penguatan dan memberikan apresiasi. Setelah itu guru mengarahkan peserta didik untuk mengerjakan evaluasi pembelajaran yang sudah guru siapkan di Pop Up  untuk mengukur hasil belajar.

c.  Pengamatan (Observasi) Siklus III

Observasi dilakukan secara kolaboratif antara peneliti. Observasi dilakukan untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran, Efektivitas peserta didik dan hasil belajar peserta didik setelah diterapkan Media Pop Updalam pembelajaran. Dalam melihat efektivitas peserta didik dilakukan dengan menyebarkan angket atau kuesioner. Sedangkan hasil belajar peserta didik dilihat dari hasil post test atau evaluasi pembelajaran yang diberikan pada akhir siklus III. Hasil dari observasi yang sudah dilakukan oleh peneliti dan observer adalah sebagai berikut:

 

1)   Pengamatan Hasil Belajar Siklus III

Proses pembelajaran pada siklus III sudah berjalan cukup baik. Post-test pembelajaran dilaksanakan pada pertemuan ketiga yaitu pada hari Jumat tanggal 13 November 2020 dengan menggunakan soal pilihan ganda berjumlah 10 butir. Data hasil belajar siswa siklus III dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6 Hasil Belajar Sejarah Indonesia Siklus III

 

No.

 

Nama

 

Nilai

Keterangan
Lulus Tidak Lulus
1. Abu Bakar 60   V
2 Al Fayyed Reza Nugraha 60   V
3 Alexander Stormy Bramantyo 60   V
4 Altaira Nabila Puja Prasasti 90 V  
5 Athallah Raziqo Zaydan Fauzta 80 V  
6 Aurellia Athallah 80 V  
7 Berliana Lossus Marta Rodena 80 V  
8 Bernadette Paula Ade Putri 80 V  
9 Chico Kymas Gading Nanshandy 80 V  
10 Chiquita Vania Laila Fedora 80 V  
11 Dyandra Rizqullah Ramadhan 80 V  
12 Dyna Aliifia Isyana 80 V  
13 Dzaky Abdullah Mannan 90 V  
14 Early Chelsealia Az Zahra 80 V  
15 Evelyn Agustina 80 V  
16 Fasta Hasby Nur Iman Akbar 80 V  
17 Fernando Refangga Saputra Frans Matacco 80 V  
18 Gebril Ratu Palayukan 90 V  
19 Luna Aprilia Fitri Nasuha 80 V  
20 Maudy Kusuma Ramadhani 80 V  
21 Muhammad Mirza Alfarizi 90 V  
22 Nabila Araminta Pramesti 80 V  
23 Namira Paramitha Putri 80 V  
24 Nasya Estrella Nirwasita 80 V  
25 Nathan Putra Utama 90 V  
26 Nayfa Azzahra Audrey Setiawan 80 V  
27 Oktorian Dwiken Yudhistira 80 V  
28 Regina Assaudah Mahmuddin 80 V  
29 Rizkia Nur Yaswa 80 V  
30 Sally Savista Anindya 80 V  
31 Satriananda Ahadya Bintang Rahadian 80 V  
32 Surya Pradipta 80 V  
33 Titus Zuriel Hariyoso 80 V  
34 Tsabitha Alya Kansa Mahirah 90 V  
35 Febbyana Putri Valentine 80 V  
36 Adellio 80 V  
Jumlah 2880 33 3
Prosentase   91% 9%
Rata-rata 80    

Berdasarkan data prestasi belajar peserta didik pada siklus III yang mencapai KKM berjumlah 33 anak atau 91% dan peserta didik yang belum mencapai KKM berjumlah 3 anak atau 9%. Nilai paling tinggi yang didapat peserta didik adalah 90, sedangkan yang terendah adalah 60, disebabkan kecakapan yang kurang baik. Rata-rata yang dicapai pada siklus III  ini adalah 80. Untuk mengetahui kriteria hasil belajar sejarah indonesia peserta didik kelas X4 ditunjukkan dalam tabel 4.7 di bawah ini:

Tabel 4.7 Data Kriteria Hasil Belajar Sejarah Indonesia Siklus I

 

No

 

Kriteria

Skala Prestasi  

Frekuensi

Prosentase (%) Rata- rata
1. Sangat Tinggi 90-100 6 17  

 

79,5

2. Tinggi 80-89 27 75
3. Cukup 70-79
4. Rendah 60-69 3  8
5. Sangat Rendah 0-59
Jumlah   36 100
Prosentase Hasil Belajar
10%
15%
Sangat Tinggi

Tinggi Cukup Rendah

Sangat Rendah

75%

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, peserta didik dengan kriteria hasil belajar sangat tinggi adalah 6 anak atau 17%, kriteria tinggi berjumlah 27 anak atau 75%, kriteria cukup tidak ada, kriteria rendah berjumlah 3 anak atau 8% dan sangat rendah sudah tidak ada. Untuk mengetahui jumlah prosentase hasil belajar sejarah indonesia peserta didik kelas X4 dapat dilihat pada gambar 4.3 di bawah ini:

Prosentase Hasil Belajar
8%
17%
Sangat Tinggi

Tinggi Cukup Rendah

Sangat Rendah

75%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.3 Prosentase Hasil Belajar Sejarah Indonesia Siklus III

2)   Pengamatan Efektivitas Belajar Akhir

Selama proses pembelajaran menggunakan media Pop Up , peneliti melihat pelaksanaan pembelajaran dan efektivitas peserta didik selama mengikuti kegiatan belajar. Berdasarkan hasil angket terhadap efektivitas peserta didik pada siklus akhir, menunjukkan bahwa peserta didik sudah menunjukkan respon positif walaupun masih ada sebagian peserta didik yang belum terlibat aktif. Tidak semua peserta didik memiliki efektivitas belajar sesuai dengan indikator yang akan dicapai. Hal ini dapat dilihat dari data yang menunjukkan sebagian besar indikator sudah mencapai indikator keberhasilan. Berikut ini perolehan masing-masing aspek efektivitas belajar 36 peserta didik pada tiap indikator pada pertemuan siklus ke III:

Tabel 4.8 Hasil Kuesioner Efektivitas Belajar

No Pertanyaan Poin
1 Belajar sejarah membuat saya senang 91
2 Pelajaran sejarah membuat saya semakin tahu tentang Indonesia 91
3 Pelajaran Sejarah membuat saya mengantuk dikelas 79
4 Bagi saya pelajaran Sejarah kurang bermanfaat 88
5 Pada awal pembelajaran sejarah Indonesia saya mendapat pengetahuan yang

baru

91
6 Ketika saya belajar sejarah Indonesia saya menjadi lebih menghargai perbedaan 88
7 Menurut saya buku pelajaran sejarah yang tak bergambar membuat saya

ngantuk

84
8 Menurut saya isi materi pelajaran sejarah kurang sesuai dengan minat saya 83
9 Menurut saya tugas pelajaran sejarah terlalu kompleks membuat saya malas

mengerjakan tugas tersebut

88
10 Menurut saya sulit memahami materi sejarah dikarenakan materi terlalu

kompleks

76
11 Saya mendapatkan banyak nilai nilai nasionalisme dari pembelajaran sejarah 87
12 Saya sulit mendapatkan nilai nilai yang berharga dalam pelajaran sejarah 84
13 Saya lebih menyukai pelajaran bahasa Indonesia dari pada pelajaran sejarah 77
14 Saya sulit memahami pelajaran sejarah dikarenakan minim media pembelajaran 80
15 Saya mudah memahami pelajaran sejarah dikarenakan menggunakan media

pembelajaran

83
16 Saya dapat memahami materi sejarah dengan menggunakan contoh dari salah

satu peristiwa sejarah

84
17 Isi dari pelajaran sejarah dapat saya pahami 79
18 Saya tidak dapat menangkap isi dari pembelajaran sejarah 80
19 Saya dapat menjabarkan kembali materi sejarah yang telah disampaikan oleh

guru

74
20 Saya sulit menjabarkan kembali materi sejarah yang disampaikan oleh guru 74

 

Hasil angket efektivitas belajar dari 36 peserta didik dengan 20 indikator pada siklus akhir menunjukkan bahwa total nilainya adalah 1661 dengan rata-rata 83,05%. Dari data tersebut dapat disimpulkan beberapa siswa mulai memiliki efektivitas belajar dalam kegiatan pembelajaran meskipun masih ada peserta didik yang sedikit pasif dalam proses pembelajaran.

  1. Refleksi

Refleksi siklus III dilakukan terhadap proses pembelajaran Sejarah Indonesia di kelas yang dilakukan dengan memanfaatkan Media Pop Upberlangsung cukup baik, meskipun masih terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran. Kendala yang masih terjadi pada siklus III yaitu masih ada peserta didik yang kurang aktif karena kondisi sinyal atau jaringan yang kurang baik. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kesiapan dari peneliti dalam melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Adapun yang harus ditingkatkan peneliti dalam mengelola kelas dengan baik, memanajemen waktu dengan baik dan tegas dalam proses pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan efisien.

Pada setiap siklus peneliti menjelaskan dalam penggunaan Pop Up  siswa harus aktif dalam diskusi kelompok, siswa harus menguasai materi dan bekerja sama dalam kelompok tetapi harus ada upaya dari peneliti agar pembelajaran menjadi efektif dan efisien dengan cara peneliti harus berupaya agar siswa lebih berantusias dalam mempelajari materi yang diberikan, peneliti harus membuat suasana di dalam kelas lebih menyenangkan. Dengan demikian siswa akan senang mempelajari sejarah tanpa adanya paksaan. Berdasarkan hasil refleksi di atas, diharapkan dalam kegiatan selanjutnya dalam penggunaan Media Pop Upsiswa lebih bersemangat, serta timbul kesadaran dan kemauan dalam belajar sejarah.

 

B.   PEMBAHASAN

  1. Komparasi Hasil Belajar Sejarah Indonesia Kelas X4

Untuk melihat hasil belajar sejarah siswa dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning dari siklus I, siklus II dan Siklus III, peneliti melakukan analisis komparatif terhadap hasil belajar sejarah peserta didik kelas X4.

Berdasarkan analisis data hasil belajar peserta didik menunjukan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar sejarah siswa kelas X4 setelah memanfaatkan Media Pop Up dan Zoom. Pada siklus I yang mencapai KKM berjumlah 17 anak atau 45% dan peserta didik yang belum mencapai KKM berjumlah 19 anak atau 55%. Nilai paling tinggi yang didapat peserta didik adalah 90, sedangkan yang terendah adalah 20, disebabkan kecakapan yang kurang baik. Rata-rata yang dicapai pada siklus I ini adalah 64. Pada siklus II mencapai peningkatan, yang mencapai KKM berjumlah 32 anak atau 88% dan peserta didik yang belum mencapai KKM berjumlah 4 anak atau 12%. Nilai paling tinggi yang didapat peserta didik adalah 90, sedangkan yang terendah adalah 60, disebabkan kecakapan yang kurang baik. Rata-rata yang dicapai pada siklus II ini adalah 78. Dan pada siklus III kembali mengalami peningkatan, yang mencapai KKM berjumlah 33 anak atau 92% dan peserta didik yang belum mencapai KKM berjumlah 3 anak atau 8%. Nilai paling tinggi yang didapat peserta didik adalah 90, sedangkan yang terendah adalah 60, disebabkan kecakapan yang kurang baik. Rata-rata yang dicapai pada siklus III ini adalah 80.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan Media Pop Up dan Zoom pada pelajaran sejarah dapat meningkatkan hasil belajar sejarah siswa kelas X4. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat melalui tabel berikut;

Tabel 4.9 Peningkatan Hasil Belajar Sejarah Siswa

Keterangan Siklus I Siklus II Siklus III
Rata-rata 64,00 77,00 80,00
Tertinggi 90 90 90
Terendah 20 60 60
Tuntas 45% 88% 92%
Tidak tuntas 55% 12% 8%

 

Berdasarkan analisis komparasi hasil belajar sejarah siswa secara individu setelah memanfaatkan Media Pop Updan Zoom pada siklus pertama sampai siklus ketiga yang diperoleh mengalami peningkatan dan ada juga yang tetap. Secara lebih rinci peningkatan hasil belajar sejarah siswa dari siklus pertama sampai siklus ketiga dapat dilihat melalui tabel berikut;

Tabel 4.10 Perbandingan Hasil Belajar Siklus I, II dan III

No Skala minat Kriteria Siklus I Siklus II Siklus III
f % Rata

-rata

F % Rata-

rata

F % Rata-

rata

1 90-

100

Sangat tinggi 5 14%  

 

 

 

64,0

0

7 19%  

 

 

 

78,00

6 17%  

 

 

 

79,50

2 80-89 Tinggi 2 6% 17 47% 27 75%
3 70-79 Cukup 10 28%   8 22%     0 0%
4 60-69 Kurang 7 19%    4 12% 3 18%
5 0-59 Sangat Kurang 12 33%    0 0% 0 0%

5

2

10

7

80%

70%

60%

50%

40%

30%

20%

10%

0%

75%
47%
19%
33%
14%
28%
19%
22%
15%
12%
18%
6%
0%
0%
0%

12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siklus I   Siklus II   Siklus III
Sangat Tinggi Tinggi Cukup Kurang Sangat Kurang

 

Gambar 4.4 Data Perbandingan Hasil Belajar

 

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Hal itu ditunjukkan dengan rata-rata siklus pertama 64,00, pada siklus kedua meningkat menjadi 77,00 dan pada siklus ketiga menjadi 80,00. Pada siklus pertama kategori sangat tinggi 14% sedangkan pada siklus kedua 19% dan ketiga 15%. Kategori tinggi pada siklus pertama hanya 6%, pada siklus kedua meningkat drastis menjadi 47% dan pada siklus semakin meningkat menjadi 75%. Kategori cukup pada siklus pertama 28% pada siklus kedua  22% dan pada siklus ketiga 0%. Kategori kurang pada siklus pertama 19%, pada siklus kedua 12% dan ketiga 18%. Kategori sangat kurang pada siklus pertama 33%, pada siklus kedua dan ketiga mengalami penurunan drastis menjadi 0%. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan Media Pop Up dan Zoom dapat meningkatkan hasil belajar sejarah peserta didik.

 

2.  Pembahasan Hasil Belajar

Hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dalam setiap siklusnya. Pada siklus pertama rata-rata hasil belajar sejarah peserta didik adalah 64,00 meningkat menjadi 78,00 pada siklus kedua, dan pada siklus ketiga mengalami peningkatan menjadi 79,50. Peningkatan hasil belajar dapat dipengaruhi oleh peningkatan efektivitas belajar peserta didik terhadap pembelajaran Sejarah Indonesia. Efektivitas belajar peserta didik sangat menunjang meningkatnya hasil belajar mereka.

Peningkatan hasil belajar sejarah peserta didik disebabkan oleh dua faktor yakni faktor dari dalam dan dari luar. Faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik dapat disebabkan

oleh keinginan untuk mendapatkan nilai dengan berbagai usaha baik melalui buku pelajaran maupun bertanya kepada guru. Faktor yang berasal dari luar dapat disebabkan oleh dorongan dari orang tua, teman dan juga model, metode dan media pembelajaran guru yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Salah satu media pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar sejarah siswa adalah media pembelajaran Pop Up. Melalui media tersebut dapat membantu guru menyampaikan materi yang dapat merangsang kemampuan berfikir peserta didik secara mandiri dan memotivasi mereka untuk mengeksplorasi materi melalui sumber lain dan diskusi, mengemukakan pendapat maupun penyelesaian tugas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan Pop Up  secara tepat dan benar serta sesuai dengan langkah-langkahnya dapat meningkatkan efektivitas dan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X4 SMA BSS Malang.

 

3.  Pembahasan Efektivitas Belajar

Efektivitas belajar peserta didik dapat dilihat melalui peningkatan kegiatan belajar selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan belajar siswa mengalami peningkatan baik pada siklus II maupun pada siklus III. Peningkatan kegiatan belajar siswa tersebut sangat mempengaruhi efektivitas belajar sejarah peserta didik karena kegiatan belajar merupakan wujud efektivitas peserta didik itu sendiri.

Pada siklus pertama dengan memanfaatkan Media Pop Up rata-rata efektivitas belajar sejarah peserta didik adalah 79,50. Sedangkan pada siklus ketiga meningkat menjadi 83,05. Jadi dapat dismpulkan bahwa pemanfaatan Media Pop Up dapat meningkatkan efektivitas belajar sejarah peserta didik. Terjadinya peningkatan Efektivitas tersebut karena peserta didik mulai terbiasa belajar melalui Media Pop Up dan zoom meeting, selain itu mereka sudah paham terhadap langkah-langkah pembelajaran sehingga banyak bertanya, aktif dalam diskusi dan mengemukakan pendapat.

Peningkatan efektivitas belajar sejarah peserta didik dapat disebabkan oleh faktor dari dalam maupun dari luar. Faktor pendorong peningkatan efektivitas belajar dalam diri siswa disebabkan oleh keinginan belajar yang terdapat dalam dirinya untuk aktif mengikuti pembelajaran. Sementara faktor pendorong dari luar diri peserta didik disebabkan oleh cara mengajar yang dilakukan melalui aplikasi zoom meeting menarik perhatian karena kegiatan tersebut merupakan hal baru bagi mereka. Selain itu Media Pop Up yang mengutamakan keaktifan siswa untuk menemukan hal-hal dalam penyelesaian masalah sehingga merangsang keinginan untuk belajar dan dapat meningkatkan efektivitas belajar sejarah peserta didik tersebut.

 

 

 

 

A.     Kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada peserta didik kelas X4 SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Penggunaan Media Pop Updapat meningkatkan Efektivitas belajar sejarah peserta didik kelas X4SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL. Hal ini dapat ditunjukkan pada siklus awal nilai rata-rata efektivitasnya adalah 79,50 dan pada siklus akhir meningkat menjadi 83,05.
  2. Penggunaan Media Pop Updapat meningkatkan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X4SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata hasil belajar sejarah dan jumlah peserta didik yang memenuhi Pada siklus pertama nilai rata-rata adalah 64,00, siklus kedua meningkat menjadi 77,00 dan siklus ketiga menjadi 80,00. Berdasarkan jumlah peserta didik yang memenuhi KKM pada siklus pertama 17 orang atau 45%, siklus kedua meningkat menjadi 32 orang atau 88%, dan siklus ketiga meningkat menjadi 33 orang atau 92%.

Dengan demikian pembelajaran dengan penggunaan Media Pop Up dapat meningkatkan kualitas pembelajaran baik dari segi proses belajar maupun hasil belajar.

 

B.     Saran

Adapun saran bagi guru dan bagi peneliti yang akan melakukan penelitian

berikutnya adalah sebagai berikut:

  1. Bagi Guru

Dapat menerapkan penggunaan model pembelajaran Pop Up dalam proses pembelajaran untuk memotivasi siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Namun harus memperhatikan beberapa hal yaitu mempersiapkan terlebih dahulu peralatan yang diperlukan seperti kertas, gunting, lem dan memperhatikan petunjuk pemanfaatan, sehingga diharapkan proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

  1. Bagi Siswa

Dapat mempergunakan model pembelajaran Pop Up dalam pembelajaran sehingga siswa tidak merasa bosan dengan model pembelajaran yang biasa digunakan (ceramah).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Arikunto, Suharsimi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas: untuk guru. Bandung: Yrama Widya Azhar, Arsyad. (2010). Media Pembelajaran. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada

Dimyati, Mudjiono, 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti Depdikbud

John D Latuheru. (1998). Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini. Jakarta: APTIK

Kasihani Kasbolah. 1998. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas

Kunandar. 2008. Langkah Muda Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : Rajawali Pers

Ningtiyas, T., Setyosari, P., & Praherdiono, H. (2019). Pengembangan Media Pop-Up Book Untuk Mata Pelajaran Ipa Bab Siklus Air Dan Peristiwa Alam Sebagai Penguatan Kognitif Siswa. Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 2(2), 115–120. https://doi.org/10.17977/um038v2i22019p115

Meleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Meleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Solichah, L. A., & Mariana, N. (2018). Pengaruh Media Pop Up Book Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika Materi Bangun Datar Kelas IV SDN Wonoplintahan II Kecamatan Prambon. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 6(9), 1537–1547.

Sudjana, dkk. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algensindo Sudjana, Nana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya

Sukardiyono, Totok. 2015. Pengertian, Tujuan, Manfaat, Karakteristik, Prinsip, dan Langkah- langkah Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta

Sukidin, dkk. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Percetakan Insan Cendekia

Tisna Umi Hanifah. (2014). Pemanfaatan Media Pop-Up Book Berbasis Tematik Untuk Meningkatkan Kecerdasan Verbal-Linguistik Anak Usia 4-5 Tahun (Studi Eksperimen Di Tk Negeri Pembina Bulu Temanggung). BELIA: Early Childhood Education Papers, 3(2), 46–54.

https://idcloudhost.com/mengenal-apa-itu-google-classroom-fitur-fungsi-dan-keunggulannya/

 

 

https://ilmu-pendidikan-berbagi.blogspot.com/2016/03/bab-iii-metode-penelitian- ptk.html#:~:text=Penelitian%20Tindakan%20Kelas%20disebut%20juga,pembelajaran%20di

%20kelas%20secara%20profesional

 

https://www.kajianpustaka.com/2019/03/penelitian-tindakan-kelas-ptk.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran. Dokumentasi Foto

 

Foto a. Peneliti (dalam hal ini saya sendiri) sedang menjelaskan materi desiminasi

publikasi penelitiannya di SMA Brawijaya Smart School Malang pada tanggal

3 Maret 2022

Sumber : Dokumentasi Pribadi 3 Maret 2022

Foto b. Peserta seminar desiminasi publikasi (dalam hal ini guru dan karyawan

SMA BSS) sangat antusias dalam hal menerima materi seminar di

SMA Brawijaya Smart School Malang pada tanggal 3 Maret 2022

Sumber : Dokumentasi Pribadi 3 Maret 2022

Tinggalkan Balasan