Implementasi kurikulum 2013 memberikan dampak dalam proses pembelajaran guru di kelas. Guru dituntut untuk lebih profesional dalam menyelenggarakan pembelajaran di kelas. Hal ini disebabkan karena kurikulum 2013 mengamanatkan penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/ mengasosiasikan, dan mengomunikasikan. Lalu optimalisasi peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher Order Thinking Skills).

Pembelajaran abad 21 secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21 kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative. Berdasarkan Taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Krathwoll dan Anderson, kemampuan yang perlu dicapai siswa bukan hanya LOTS (Lower Order Thinking Skills) yaitu C1 (mengetahui) dan C-2 (memahami), MOTS (Middle Order Thinking Skills) yaitu C3 (mengaplikasikan) dan C-4 (mengalisis), tetapi juga harus ada peningkatan sampai HOTS (Higher Order Thinking Skills), yaitu C-5 (mengevaluasi), dan C-6 (mengkreasi). Penerapan pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, dan integrasi literasi dan PPK dalam pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka menjawab tantangan, baik tantangan internal dalam rangka mencapai 8 (delapan) SNP dan tantangan eksternal, yaitu globalisasi.

In House Training: Penerapan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Dalam Pembelajaran

Dikirim oleh Kanaka Foundation pada Kamis, 20 Juni 2019

by Kanaka Foundation

Berlatar belakang dari hal tersebut SMA Brawijaya Smart School dalam rangka mempersiapkan tahun ajaran 2019/2020 menyelenggarakan In House Training yang bekerjasama dengan KANAKA FOUNDATION pada 17 Juni 2019 dengan judul “Penerapan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dalam Pembelajaran”. Acara dikemas dalam suasana santai namun berjalan kondusif. Dibuka dengan games pemanasan untuk meningkatkan kekompakan bapak/ibu guru dilanjut pemaparan materi penyusunan soal HOTS. Disambung dengan langsung praktik membuat soal HOTS dan saling memberikan feedback antar kelompok dengan metode gallery walk membuat 6 jam tidak terasa sudah terlampaui. Ditutup dengan permainan Quizizz dan pemberian reward bagi guru yang mendapat bintang terbanyak pada sesi menyusun soal HOTS acara in house training kali ini sungguh berkesan. Harapannya dengan adanya in house training ini bapak/ibu guru SMA BSS bisa semakin mahir dalam menyusun soal-soal HOTS untuk mempersiapkan siswa-siswanya dalam USBN, UN dan UTBK.

Tinggalkan Balasan